Konseling HIV & AIDS merupakan komunikasi bersifat rahasia (membangun kepercayaan) antara klien dan konselor bertujuan meningkatkan kemampuan menghadapi stres dan mengambil keputusan berkaitan dengan HIV & AIDS. Proses konseling termasuk evaluasi risiko personal penularan HIV, fasilitasi pencegahan perilaku dan evaluasi penyesuaian diri ketika klien menghadapi hasil tes positif.
Konseling HIV & AIDS memiliki perbedaan dengan konseling secara umum dalam hal:
- Membantu klien melakukan informed consent (persetujuan) untuk tes HIV, CD4, atau Viral load.
- Layanan konseling pra dan pasca tes
- Penilaian mengenai perilaku berisiko klien terhadap infeksi HIV (baik menularkan atau tertular)
- Penggalian riwayat perilaku seks dan kesehatan klien.
- Memfasilitatsi perubahan perilaku.
- Konfidensialitas klien sangat penting jika menyangkut isu stigma dan diskriminasi
- Menjangkau kelompok-kelompok khusus (pecandu napza, penjaja seks, laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki, waria, pekerja migran, suku asli, dan pengungsi) menghadapi isu diskriminasi ganda, yaitu sebagai bagian dari kelompok khusus yang dikucilkan masyarakat dan sebagai orang yang selalu dianggap berisiko terhadap atau telah terinfeksi HIV.




