Masyarakat pada umumnya termasuk masyarakat sekolah saat ini masih banyak yang belum memahami seluk beluk tentang anak berkebutuhan khusus (ABK). Ketidak pahaman ini berdampak terhadap sikap dan layanan terhadap ABK. Salah satu ABK adalah anak “Borderline” atau anak lambat belajar. Keluarga yang memiliki ABK seringkali mengalami shok berat dan stres yang berkepanjangan. Bahkan pertengkaran suami-istri pun tidak bisa dihindarkan. Hal ini kalau dibiarkan akan berujung pada perceraian. Situasi rumah tangga yang demikian juga akan berdampak terhadap kejiwaan anak. Kondisi yang demikian, kehadiran seorang konselor sangat diharapkan untuk menyelamatkan keluarga dan anak borderline.
Di lain pihak, sekolah juga salah kaprah. Sekolah tidak siap melayani siswa borderline. Kurikulumnya tidak mengakomodasi, fasilitasnya tidak tersedia, guru pembimbing khusus/helper pun tidak ada. Siswa borderline menjadi anak “bawang”, pokoknya asal sekolah. Padahal siswa borderline sesungguhnya memiliki “potensi” dan “bakat” yang bisa dikembangkan. Apabila potensi dan bakat yang dimiliki dikembangkan secara optimal mungkin dia bisa menjadi juara, paling tidak dia bisa mandiri dan menghidupi dirinya sendiri.
Baca juga: Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak
Setiap orang tua pasti mendambakan anaknya sehat, cerdas, berhasil dalam pendidikannya, dan sukses dalam hidupnya. Orang tua merasa bangga dan bahagia ketika harapan tersebut menjadi kenyataan. Orang tua mana yang tidak bangga ketika melihat anak-anaknya sukses. Tidak jarang orang tua mengungkapkan perasaan bangga tersebut dengan menceritakan kesuksesan anaknya kepada sanak keluarga, tetangga dekat maupun jauh, teman sejawat, dan bahkan kepada siapapun yang menjadi lawan bicaranya.
Namun ketika harapan dan mimpi indah tersebut tidak menjadi kenyataan, maka dunia ini terasa hancur, mimpi indah mendadak menjadi mimpi buruk yang selalu membayangi sepanjang hidupnya. Muncul rasa kecewa yang mendalam bercampur sedih, bingung, marah, putus asa, tidak bergairah, dan tidak berdaya sampai mati langkah. Bahkan cinta kasih dan sayang kepada sang anak berubah menjadi kebencian, muncul rasa malu, tidak percaya diri, berdosa, saling menyalahkan antara suami istri, muncul pertengkaran yang hebat, sampai seringkali terjadi perceraian, bahkan shok dan stres berat pun menghampirinya.
Tidak ayal lagi sang anak yang tadinya menjadi harapan masa depan yang cemerlang dan investasi yang sangat berharga akhirnya malahan menjadi korban. Anak diterlantarkan, dibiarkan, diabaikan, ditolak kehadirannya, tidak dibimbing, tidak didorong, tidak diberi semangat untuk mencapai perkembangan yang seharusnya dan optimal. Kondisi semacam ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak. Besar kemungkinan anak akan mengalami gangguan psikologis, psiko-sosial, dan perilaku serta emosi. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi pengembangan potensi anak. Lebih-lebih kalau hal ini terjadi pada seorang anak yang dinyatakan “borderline” oleh seorang psikolog. Padahal, pada dasarnya anak “borderline” sekalipun tetap memiliki potensi yang bisa dikembangkan secara optimal. Seandainya secara merata diseluruh mata pelajaran prestasinya di bawah rata-rata, namun potensi yang dimilikinya masih bisa dikembangkan secara optimal kalau diberi layanan pendidikan yang disesuaikan dengan kemampuan, potensi, dan kebutuhannya. Bahkan prestasi akademiknya sangat rendah sekalipun, namun masih bisa dilihat pada potensi lain yang bisa dikembangkan secara optimal, misalnya bakat dalam seni, olah raga, dan keterampilan lainnya.
Di Indonesia belum ada penelitian/survey yang mendata tentang anak yang mengalami lambat belajar (borderline), sampai saat ini belum diketahui berapa jumlah anak lambat belajar. Diduga populasinya cukup tinggi karena masih banyaknya anak yang prestasi akademiknya di bawah rata-rata. Data dari wali kelas di beberapa sekolah ditemukan jumlahnya berkisar antara 20 sampai 30 persen. Hal ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor resiko, seperti: neurologi, herediti dan genetik, teratogenic, dan masalah nutrisi. Oleh sebab itu perlu adanya penelitian/survey untuk mendapatkan data yang akurat agar pelayanan pendidikan dan pengembangan potensi yang dimiliki anak borderline lebih terencana dan terarah.






